Aku bersiap bukan untuk kamu yang sekarang. Tapi untuk KITA—
yg akan datang.
Rabu, 16 Oktober 2013
Jumat, 11 Oktober 2013
Sang Awan
Sang Awan
Musim panas kali ini telah menelan banyak sekali korban di suatu desa, tanah yg mulai mengarami keretakan, kegagalan panen yg membuat warga semakin kelaparan, ternak yg mulai mengalami penyakit misterius, dan seringnya angin panas menerjang desa itu yg membuat warganya tak lagi memiliki kulit ari-ari.
Hal ini terlihat oleh sebongkah awan yg sedang asik menikmati santai nya angin. dia tampak kaget, dari setiap daerah yg dilewatinya, ini adalah daerah dengan keadaan paling mengkhawatirkan.
dia melihat ke sekitarnya. Tak ada satu awan pun, tampaknya tak ada awan yg mau mengorbankan dirinya untuk menjadi hujan lagi di daerah sini.
tapi karena perasaan tidak tega, awan putih itu pergi menemui awan mendung yg sangat besar
"Tuan awan yg agung, hendakkah dirimu mengorbankan separuh dari tubuhmu itu untuk membantu desa di sebelah sana ?" tanya nya memohon
"Maaf anakku, Aku sudah Tua, dan aku sudah menetapkan akhir hidupku di sini, aku akan menjadi hujan di tempat ini, mungkin kali ini aku tak bisa membantumu nak" sesalnya
kini awan putih itu kebingungan, dia mencari lagi awan yg mau mengorbankan dirinya untuk menjadi hujan.
tampak lelah badanya mencari awan mendung, tapi hari itu awan tampak cerah semuanya. awan putih makin kebingungan, apa yg harus dia lakukan,sedangkan wilayah di bawahnya itu semakin banyak saja menelan korban dari hari ke hari
awan putih itu menghampiri awan mendung yg tadi, dia bertanya.
"Tuan, tuan sebenarnya belum cukup tua, tapi kenapa tuan mau menjadi hujan?" sindirnya kepada sang awan mendung
awan mendung itu tersenyum, didekatkanlah badanya kepada sang awan putih. lalu dia mulai bercerita
"Dulu, aku terlahir disini, debu dari kota ini, bercampur debu yg ada di langit, lalu lahirlah aku. aku memang tak cukup tua, tapi aku sudah cukup menikmati hidup ini. aku tak menyesali menjadi hujan, karena saat aku nanti menjadi sebuah hujan, aku akan turun,menghapus debu, menghijaukan tanaman.dan aku tak takut, karena debu yg aku hempaskan nanti, akan berubah kembali menjadi awan, yg kelak akan menggantikan aku.
Kamu tau nak, sesuatu yg baik itu adalah sesuatu yg bermanfaat bagi kehidupan yg lain, jadi aku sudah tidak ragu menjadi pribadi yg ikhlas dimanfaatkan bagi kebaikan orang lain, kebahagiaan itu akan lebih bernilai jika di sandingkan dengan ketidakbahagiaan”
tak lama setelah itu, Sang awan mendung mulai merontokan tubuhnya satu persatu, menjadi tetes tetes kehidupan baru.
awan putih hanya terdiam melihat semua ini.
awan putih sekarang berjalan lambat, terngian-ngian selalu apa yg awan mendung katakan.
hidupku santai sekali selama ini ya jika dibandingkan dengan Tuan awan mendung. Dia rela mengorbankan dirinya, sedangkan aku hanya bermain-main saja setiap waktu.
tanpa sadar awan putih telah berdiri di atas desa yg ia temukan tadi.
termenung lah dia sebentar
Lalu tanpa pikir panjang, awan putih turun langsung ke arah desa, diputar-putarkannya badannya, dia melakukan itu agar partikel dalam tubuhnya menyatu, menjadi berat, dan menimbulkan hujan.
akhirnya,cukup beratlah badannya sekarang, lalu dia menembus ke atas langit dengan kencang, guna mengambil partikel uap air yg ada di langit. setelah beberapa lama, jadilah kini dia awan mendung
sebelum merontokan tubuhnya dia berpikir
untuk apa aku hidup? ya. aku hidup untuk menjadi sesuatu yg berguna bagi orang lain.
akhirnya dia mulai merontokkan tubuhnya,menjadi hujan. Mungkin tak terlalu besar. itu hanya awan kecil, tapi tidak seperti itu, saat dia menjadi hujan, airnya itu mengenai sebuah sumur, sumur yg telah lama kering.
Saat air itu tertampung di dalam sumur, dengan otomatis air itu meresap ke sekelilingnya, mengikat air tanah di sampingnya, dan kini sumur itu menjadi penuh lagi.
warga sangat gembira, digunakannya sumur itu setiap hari,tapi tak mengurangi sedikiti pun volume sumur tersebut.
awan kecil sangat gembira, dia kini menjadi sesuatu yg berguna bagi orang lain, dan saat dalam kebahagiaanya, dia menemukan keajaiban lainya.
Saat sedang mengikat air tanah, tampak di sana air yg ia kenal. ya, itu adalah tuan awan mendung yg dulu! Kini dia menjadi air tanah,dan kini mereka bersatu demi kebutuhan orang banyak.
janganlah takut masuk kedalam sebuah kesulitan, karena Tuhan menjamin anda lebih kuat daripada kesulitan itu sendiri. Dan nanti anda akan bertemu dengan sesuatu yg indah di dalamnya.
Banyak orang yg marah karna dimanfaatkan, tapi orang yg baik itu adalah orang yg bermanfaat bagi orang lain. Orang yg hidupnya baik adalah orang yg bermanfaat bagi orang banyak
Maka jadilah jiwa yg ikhlas dimanfaatkan bagi kebaikan orang lain. Apapun yg terjadi pada kita mungkin bukan pilihan kita, tapi bagaimana kita menjadi pribadi setelah itu, itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab kita. Fokuslah pada hal-hal yg membuat kita bernilai.
Musim panas kali ini telah menelan banyak sekali korban di suatu desa, tanah yg mulai mengarami keretakan, kegagalan panen yg membuat warga semakin kelaparan, ternak yg mulai mengalami penyakit misterius, dan seringnya angin panas menerjang desa itu yg membuat warganya tak lagi memiliki kulit ari-ari.
Hal ini terlihat oleh sebongkah awan yg sedang asik menikmati santai nya angin. dia tampak kaget, dari setiap daerah yg dilewatinya, ini adalah daerah dengan keadaan paling mengkhawatirkan.
dia melihat ke sekitarnya. Tak ada satu awan pun, tampaknya tak ada awan yg mau mengorbankan dirinya untuk menjadi hujan lagi di daerah sini.
tapi karena perasaan tidak tega, awan putih itu pergi menemui awan mendung yg sangat besar
"Tuan awan yg agung, hendakkah dirimu mengorbankan separuh dari tubuhmu itu untuk membantu desa di sebelah sana ?" tanya nya memohon
"Maaf anakku, Aku sudah Tua, dan aku sudah menetapkan akhir hidupku di sini, aku akan menjadi hujan di tempat ini, mungkin kali ini aku tak bisa membantumu nak" sesalnya
kini awan putih itu kebingungan, dia mencari lagi awan yg mau mengorbankan dirinya untuk menjadi hujan.
tampak lelah badanya mencari awan mendung, tapi hari itu awan tampak cerah semuanya. awan putih makin kebingungan, apa yg harus dia lakukan,sedangkan wilayah di bawahnya itu semakin banyak saja menelan korban dari hari ke hari
awan putih itu menghampiri awan mendung yg tadi, dia bertanya.
"Tuan, tuan sebenarnya belum cukup tua, tapi kenapa tuan mau menjadi hujan?" sindirnya kepada sang awan mendung
awan mendung itu tersenyum, didekatkanlah badanya kepada sang awan putih. lalu dia mulai bercerita
"Dulu, aku terlahir disini, debu dari kota ini, bercampur debu yg ada di langit, lalu lahirlah aku. aku memang tak cukup tua, tapi aku sudah cukup menikmati hidup ini. aku tak menyesali menjadi hujan, karena saat aku nanti menjadi sebuah hujan, aku akan turun,menghapus debu, menghijaukan tanaman.dan aku tak takut, karena debu yg aku hempaskan nanti, akan berubah kembali menjadi awan, yg kelak akan menggantikan aku.
Kamu tau nak, sesuatu yg baik itu adalah sesuatu yg bermanfaat bagi kehidupan yg lain, jadi aku sudah tidak ragu menjadi pribadi yg ikhlas dimanfaatkan bagi kebaikan orang lain, kebahagiaan itu akan lebih bernilai jika di sandingkan dengan ketidakbahagiaan”
tak lama setelah itu, Sang awan mendung mulai merontokan tubuhnya satu persatu, menjadi tetes tetes kehidupan baru.
awan putih hanya terdiam melihat semua ini.
awan putih sekarang berjalan lambat, terngian-ngian selalu apa yg awan mendung katakan.
hidupku santai sekali selama ini ya jika dibandingkan dengan Tuan awan mendung. Dia rela mengorbankan dirinya, sedangkan aku hanya bermain-main saja setiap waktu.
tanpa sadar awan putih telah berdiri di atas desa yg ia temukan tadi.
termenung lah dia sebentar
Lalu tanpa pikir panjang, awan putih turun langsung ke arah desa, diputar-putarkannya badannya, dia melakukan itu agar partikel dalam tubuhnya menyatu, menjadi berat, dan menimbulkan hujan.
akhirnya,cukup beratlah badannya sekarang, lalu dia menembus ke atas langit dengan kencang, guna mengambil partikel uap air yg ada di langit. setelah beberapa lama, jadilah kini dia awan mendung
sebelum merontokan tubuhnya dia berpikir
untuk apa aku hidup? ya. aku hidup untuk menjadi sesuatu yg berguna bagi orang lain.
akhirnya dia mulai merontokkan tubuhnya,menjadi hujan. Mungkin tak terlalu besar. itu hanya awan kecil, tapi tidak seperti itu, saat dia menjadi hujan, airnya itu mengenai sebuah sumur, sumur yg telah lama kering.
Saat air itu tertampung di dalam sumur, dengan otomatis air itu meresap ke sekelilingnya, mengikat air tanah di sampingnya, dan kini sumur itu menjadi penuh lagi.
warga sangat gembira, digunakannya sumur itu setiap hari,tapi tak mengurangi sedikiti pun volume sumur tersebut.
awan kecil sangat gembira, dia kini menjadi sesuatu yg berguna bagi orang lain, dan saat dalam kebahagiaanya, dia menemukan keajaiban lainya.
Saat sedang mengikat air tanah, tampak di sana air yg ia kenal. ya, itu adalah tuan awan mendung yg dulu! Kini dia menjadi air tanah,dan kini mereka bersatu demi kebutuhan orang banyak.
janganlah takut masuk kedalam sebuah kesulitan, karena Tuhan menjamin anda lebih kuat daripada kesulitan itu sendiri. Dan nanti anda akan bertemu dengan sesuatu yg indah di dalamnya.
Banyak orang yg marah karna dimanfaatkan, tapi orang yg baik itu adalah orang yg bermanfaat bagi orang lain. Orang yg hidupnya baik adalah orang yg bermanfaat bagi orang banyak
Maka jadilah jiwa yg ikhlas dimanfaatkan bagi kebaikan orang lain. Apapun yg terjadi pada kita mungkin bukan pilihan kita, tapi bagaimana kita menjadi pribadi setelah itu, itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab kita. Fokuslah pada hal-hal yg membuat kita bernilai.
Hari Itu
Hari itu.
Tiba-tiba, tanpa seizinku kamu mulai mencuri hatiku.
Hari itu.
Aku berani jujur jika aku tak mampu mengusirnya. Aku tak berani melangkah. Kamu perlahan tumbuh seperti bunga dalam hatiku sendiri.
.
Aku berharap kau akan berlalu, seperti angin yg menghampiri lalu kembali pergi. Bahkan jika pada suatu saat nanti kenangan tentang kita telah hilang dalam benakmu— Tersenyumlah.
Tersenyumlah layaknya tidak pernah ada aku disitu. Dan berjanjilah untuk tidak menangis lagi seperti dulu.
Buang segala kenangan kita. Berjanjilah bahwa kita tidak akan membuat kenangan.
.
Hari itu.
Aku melihatmu tersenyum layaknya tidak pernah ada aku disitu.
Terbanglah. terbanglah setinggi seperti waktu kita pertama bercengkrama dulu.
Tiba-tiba, tanpa seizinku kamu mulai mencuri hatiku.
Hari itu.
Aku berani jujur jika aku tak mampu mengusirnya. Aku tak berani melangkah. Kamu perlahan tumbuh seperti bunga dalam hatiku sendiri.
.
Aku berharap kau akan berlalu, seperti angin yg menghampiri lalu kembali pergi. Bahkan jika pada suatu saat nanti kenangan tentang kita telah hilang dalam benakmu— Tersenyumlah.
Tersenyumlah layaknya tidak pernah ada aku disitu. Dan berjanjilah untuk tidak menangis lagi seperti dulu.
Buang segala kenangan kita. Berjanjilah bahwa kita tidak akan membuat kenangan.
.
Hari itu.
Aku melihatmu tersenyum layaknya tidak pernah ada aku disitu.
Terbanglah. terbanglah setinggi seperti waktu kita pertama bercengkrama dulu.
Itu Manis Sekali
Aku masih ingat dulu, ketika tangaku tak mampu lagi memelukmu, senyumku
tak mampu lagi melahirkan senyummu, tawaku tak jadi tujuan utama
gembiramu, hingga sayangku tak lagi kau minati untuk menjadi landasan
pagi harimu.
Kemudian aku belajar menulis tentang kamu. Beralaskan rindu, bernadakan sendu. Tentang puisi satu tahun penuh. Untuk kamu. Masa laluku.
Aku masih ingat dulu, ketika pagiku hanya berharap untuk dapat bertemu kamu, melihat caramu berbicara, caramu bercengkrama, caramu tersenyum dan tertawa— Hingga caramu menyembunyikan senyum ketika aku tersenyum melihat kamu. Pagiku tak pernah semenarik ini sebelum aku bertemu kamu.
Ntah kenapa hari ini aku berfikir bahwa kisah itu manis sekali
Aku masih ingat dulu, ketika kamu tak sengaja menyapa, mengubah malam biasaku menjadi malam luar biasa. Mengajaku tersenyum tanpa memperdulikan tugas-tugasku yg lainnya. Saling berbicara tanpa pernah kehabisan kata; menyimpulkan beberapa senyum yg tak pernah hilang dikala malam menelan senja.
Ntah kenapa hari ini aku berfikir bahwa kisah itu manis sekali.
Aku masih ingat dulu, ketika kita pulang bersama sepulang sekolah, saling bercengkrama seakan dunia milik berdua, Malu-malu berpegangan diatas roda dua. Seakan kita sedang berharap tak pernah sampai agar dapat berjumpa lebih lama.
Ntah kenapa hari ini aku berfikir bahwa kisah itu manis sekali
Aku masih ingat dulu, ketika kita duduk bersama dalam satu bangku, saling berusaha bersikap biasa padahal mencoba menahan malu. Saling tau perasan masing-masing tapi memilih untuk tidak memberi tau.
Ntah kenapa hari ini aku berfikir bahwa kisah itu manis sekali.
Kemudian aku belajar menulis tentang kamu. Beralaskan rindu, bernadakan sendu. Tentang puisi satu tahun penuh. Untuk kamu. Masa laluku.
Aku masih ingat dulu, ketika pagiku hanya berharap untuk dapat bertemu kamu, melihat caramu berbicara, caramu bercengkrama, caramu tersenyum dan tertawa— Hingga caramu menyembunyikan senyum ketika aku tersenyum melihat kamu. Pagiku tak pernah semenarik ini sebelum aku bertemu kamu.
Ntah kenapa hari ini aku berfikir bahwa kisah itu manis sekali
Aku masih ingat dulu, ketika kamu tak sengaja menyapa, mengubah malam biasaku menjadi malam luar biasa. Mengajaku tersenyum tanpa memperdulikan tugas-tugasku yg lainnya. Saling berbicara tanpa pernah kehabisan kata; menyimpulkan beberapa senyum yg tak pernah hilang dikala malam menelan senja.
Ntah kenapa hari ini aku berfikir bahwa kisah itu manis sekali.
Aku masih ingat dulu, ketika kita pulang bersama sepulang sekolah, saling bercengkrama seakan dunia milik berdua, Malu-malu berpegangan diatas roda dua. Seakan kita sedang berharap tak pernah sampai agar dapat berjumpa lebih lama.
Ntah kenapa hari ini aku berfikir bahwa kisah itu manis sekali
Aku masih ingat dulu, ketika kita duduk bersama dalam satu bangku, saling berusaha bersikap biasa padahal mencoba menahan malu. Saling tau perasan masing-masing tapi memilih untuk tidak memberi tau.
Ntah kenapa hari ini aku berfikir bahwa kisah itu manis sekali.
Sajak Satu Tahun Penuh
Hari
ini, tempatku berpulang benar-benar hilang;
Pintunya
tertutup untukku dan terbuka untuk yg lain.
Matanya berpaling dariku dan menatap lembut kearah mata yg lain.
Senyumnya hilang menatap senyumku, dan teduh memberi kepada yg lain.
Telinganya menolak mendengar namaku, dan memasang peka pada nama yg lain.
Hidungnya enggan mencium aroma parfumku, dan menagihkan sebuah aroma parfum yg lain.
Tangan yg dulu menggenggamku kini sebisa mungkin menolak menjabat tangaku, dan berjalan pergi bergandengan dengan tangan yg lain.
Hangat pelukannya menolakku berpulang, dan seakan menjadi candu bagi hangat tubuh yg lain.
Langkahnya kini menjauhiku, dan mengejar langkah yg lain.
Pujiannya mencemoohku, diatas pujiannya untuk yg lain.
Ucapan selamat tidurnya seakan menyuruh perasaanku untuk tertidur dalam waktu yg tak diperkirakan.
Matanya berpaling dariku dan menatap lembut kearah mata yg lain.
Senyumnya hilang menatap senyumku, dan teduh memberi kepada yg lain.
Telinganya menolak mendengar namaku, dan memasang peka pada nama yg lain.
Hidungnya enggan mencium aroma parfumku, dan menagihkan sebuah aroma parfum yg lain.
Tangan yg dulu menggenggamku kini sebisa mungkin menolak menjabat tangaku, dan berjalan pergi bergandengan dengan tangan yg lain.
Hangat pelukannya menolakku berpulang, dan seakan menjadi candu bagi hangat tubuh yg lain.
Langkahnya kini menjauhiku, dan mengejar langkah yg lain.
Pujiannya mencemoohku, diatas pujiannya untuk yg lain.
Ucapan selamat tidurnya seakan menyuruh perasaanku untuk tertidur dalam waktu yg tak diperkirakan.
Untukmu;
sajak satu tahun penuh-ku.
Suatu saat nanti kita akan bertemu, kamu dengan seseorang barumu, dan aku yg tetap terdiam memujamu. Tatapan kita bertemu, tak bersuara, berusaha mengacuhkannya tapi tak bisa.
Suatu saat nanti kita akan bertemu, kamu dengan seseorang barumu, dan aku yg tetap terdiam memujamu. Tatapan kita bertemu, tak bersuara, berusaha mengacuhkannya tapi tak bisa.
Suatu
saat kau enggan menyapaku dan menjabat tanganku. Kau pergi ketika tau aku ada
disitu. Kau memilih jalan pulang yg lain ketika aku menuju kesitu.
Apa
yg membuatmu enggan bertemu denganku? bukankah dulu kita lebih dari sekedar
senyum dan sebuah hangatnya peluk? Lantas aku ini siapa bagimu?
Memang,
rasanya memang tak pantas menguak kenangan kepada sang-masa depan; Aku tau kamu
hebat dalam perihal menguburkan masa lalu. Aku memang belum sepandai itu dari
dulu. Bahkan aku belum mampu mencintai sesedikit kamu mencintai aku.
Selamat
datang, Sajak satu tahun penuh-ku.
Perkenalkan. Aku.. Masa lalu.
Perkenalkan. Aku.. Masa lalu.
Langganan:
Postingan (Atom)