Kamis, 20 Februari 2014

Kita adalah doa yang dipanjatkan tetapi tak terkabulkan

 

Kita menenggelamkan pasir yang kau sebut kesetiaan itu kedalam lautan yang ku sebut hati Kita adalah sepasang yang selalu saling berbuat baik, menerima kekurangan dengan baik.
Kita adalah telinga, tak pernah memilih apa yang ingin dan tak ingin kita terima.


Tetapi kali ini kita harus menerima bahwa kita hidup di keinginan Tuhan,
Kau adalah harapan yang diturunkan sebagai hujan,
Aku adalah angan yang diterbangkan angin,
Dan kita adalah doa yang dipanjatkan tetapi tak terkabulkan.

*
Selepas ini, aku dan kau tak akan mengingat apa-apa, kecuali nisan yang bertuliskan “kita” di dalam ingatan masing-masing.
Selepas ini, aku dan kau takkan saling merindukan, tetapi aku, pun kau tahu cinta yang baik adalah yang tetap saling mendoakan.
Selepas ini, selepas hujan ini, semoga bagimu senyumku tetap pelangi, dan senyummu tetap surga kecil di mataku.
Selepas ini, selepas perpisahan ini, semoga kesedihanmu tetap untuk kesedihanku, dan air matamu tetap perihal yang lebih menakutkan dari badai, bagiku.
Selepas ini, selepas kegetiran ini, jangan bersedih jika suatu saat hujan mengingatkanmu padaku, sebab kau tahu, aku membenci kesedihanmu. :)
Selepas ini, selepas kepergian ini, semoga dimatamu aku tak pernah asing, meski saat itu Tuhan menyibukkan kita dengan hidup dan kebahagiaan masing-masing.
Selepas ini, selepas cinta yang berakhir dengan saling melambai, semoga saling membenci atau melupakan tidak pernah ada dalam andai.
Selepas ini, aku dan kau akan pergi ke pertemuan lain, berharap ada cinta yang berakhir dengan melingkarkan cincin.
Selepas ini, cintailah seseorang yang membenci kesedihanmu. Dan jangan melupakanku

Selasa, 18 Februari 2014

Mengingat Waktu Denganmu




Mengingat waktu
denganmu ;

Aku sedang mengingat sudah seberapa jauh kita melangkah menyusuri kota ini,
Menghitung seberapa banyak lampu kota,
Persimpangan jalan dan perihal lain yang selalu kita hitung, tetapi selalu kita lupa jumlahnya.

Aku ingat suatu hal,
Suatu malam, di sebuah café kita pernah bersama menunggu pelangi;
“denganmu, aku mempercayai sebuah kemustahilan”.
Suaramu terdengar tak lebih kencang dari suara penyanyi café,
Lalu kita tersenyum, menirukan bulan separuh di atas kita,
Ah, sungguh aku merindukan malam paling menyenangkan dalam hidupku itu.

“Kita akan bertemu di kehidupan sesudah ini”,
Katamu beberapa hari sebelum kau pergi.

Sayang,
Dimanakah kini kau berada?,
Aku bosan menyusuri kota ini sendirian,
Aku rindu senyummu sehabis kau keliru menyebut berapa jumlah lampu kota.

Sayang,
Benarkah bintang yang berkedip padaku, itu kau?

Minggu, 16 Februari 2014

Kata Bapakku

Jangan berpura-pura pergi hanya untuk ingin dikejar
jangan berpura-pura menghilang hanya untuk ingin dicari
"Berjuang Tak Sebercanda Itu"

(doa) Sajak Lama

Doa;
Kita seduh dan kecap manis dan pahit bersama,
Secangkir kopi dan segelas susu,
Pahit mauni dan manis tebu,
Hujan di mataku bermula dari mendung di hatimu, pun sebaliknya,
Terang di hatiku karena cerah langit matamu, pun sebaliknya, begitu sebaiknya,
Kita sepasang angsa yang percaya bahwa kebahagiaan adalah ketenangan air danau,
Bukan indah dan mewah lautan,

Doaku;
Semoga kita bernasib seperti sepasang angsa, hanya dipisahkan oleh kematian.
*
Beberapa bulan sehabis saya menulis sajak itu, saya menulis sajak lain yang berjudulu; “Tuhan mengabulkan doa kita”.
Tuhan mengabulkan doa kita;
Hari itu, Tuhan mengabulkan doa kita, sayang.
Di rumahmu, cinta jatuh sebagai air mata,
Melihat kaku tubuhmu,
Mengingat segala kebaikanmu,
Ah benar katamu sayang; “Manusia tak pernah sanggup kehilangan apa yang ia cintai”,
Hari itu,
Kaututup matamu,
Dan kututup peti matimu,
“sebab kita tak pernah berjanji bertemu di kehidupan ini, maka kita berjanji untuk bertemu di kehidupan sesudah ini”, suaramu lembut berbisik di ingatanku,
Sayang, semoga kita bisa menepati janji itu

Pesanku Dalam Perpisahan (kita)

Kali ini aku berpikir,
Perpisahan adalah jawaban untuk keraguan atas cinta dan kecemburuan kita,
Akhirnya air matamu, dan air mataku membuat kita mengerti bahwa kita sangat saling mencintai.
Kita sangat saling membutuhkan dan sama merasa nyaman,
Tetapi perpisahan adalah perjalanan menuju seorang yang lebih membutuhkan dan kita butuhkan, lebih nyaman dari kenyamanan kita.
Bukankah kau pernah bilang; “berperasangka baiklah pada Tuhan”, kali ini, aku berusaha melakukan yang kau katakan itu, mungkin kau juga berusaha untuk itu.
Ya, Perpisahan ini baik untuk kita.
Sesudah ini, jatuh cintalah kepada seseorang yang sangat membenci kesedihanmu, lagi.

Selasa, 21 Januari 2014

Jadilah apa yang seharusnya terjadi





Matahari belum terlihat
Aku pun belum beranjak
Beranjak dari sebuah tempat tidur yang kecil
Sedang pikiranku entah kemana dia menepi
.
.
Sesekali aku tak merasa dekat
Sehingga kini rasanya kau hilang mendadak
Rasanya takkan ada kata “Berhasil”
Semestinya aku tak harus seperti ini
.
.
Lama sekali rasanya
Aku selalu ingin tahu
segala tentangmu
Tapi yang kurasa hanya percuma
.
.
Salah
Jika semua itu yang kulakukan
Tak ada janji
Tak ada hal yang pernah sampai
.
.
Lelah
Jika hanya dipikirkan
Harusnya ada sekeping janji
Dan seutas kata kecil yang sampai
.
.
Satu…
Seribu…
Satu hingga seribu
Semuanya tak ada yang pernah terjadi padamu
Wajar saja jika sesuatu hal terjadi
Sesuatu yang tak pernah aku tahu
Sesuatu yang membuat aku …
Sesuatu yang membuatku …
.
.
Tak ada praduga tak bersalah
Hanya bodoh ini yang membuatku lelah
Selalu salah
Dan ingin menyerah.
.
.
Seharusnya aku sadar
Seharusnya aku tahu
Seharusnya aku ingat
Dan seharusnya aku mengerti
.
.
Jika seseorang yang bersandar
Jika hanya seseorang yang tahu
Jika hanya orang lain yang dekat
Jika seorang yang selalu mengerti
.
.
Seharusnya aku bangun
Seharusnya aku buka mata ini
Terbangunlah wahai diri yang tak pernah terbangun
Buka mata mu, Kini
.
.
Sehingga bunrung hinggap di batang pohon
Sehingga ikan itu berenang di suatu kolam
Sehingga semut itu merayap di dalam tanah
Dan sehingga kelalawar itu tetap dalam gua
.
.
Sehingga tak ada yang memohon
Tak ada yang terbungkam
Tak ada yang sakit parah
Dan tak ada kata “kita”
.
.
Tak ada yang bisa dipungkiri
Tak ada yang bisa dihindari
Hanya sang penguasa yang membuat garis hidup ini
Dan yang mungkin menghubungkan yang ada disini
.
.
Apapun yang terjadi
Jadilah apa yang seharunya terjadi

Senin, 06 Januari 2014

Aku Bangun



dan dengan lirih aku berkata
dan aku disini terdiam, tanpa mampu mempertahankan kau untuk tetap tinggal dan jangan tanggal.
biar, semua dalam sepi. ku relakan segalanya berjalan tanpa pernah mampu ku hentikan. pun kepergianmu.
kecuali kamu, dengan sederhananya senyumanmu mampu meluluhkan segala keteguhanku.
kecuali kamu. dengan kedipan mata mampu menjatuhkanku
ingin ku berlari, sampai tak ada satupun orang yang mampu menjangkauku.
telah kuterima ketetapan Tuhan, berpisah darimu dalam sebuah ketidakpastian.
telah kukuatkan hatiku menjalani sisa sebagian harapanku tanpa dirimu.
aku dihadapkan kembali kepada waktu yang sama, di tempat yang sama, dengan kenyataan yang berbeda.
aku tak lagi ingat, kapan senyummu yang menenangkan kini berubah menjadi menggetirkan.
aku tak lagi ingat, bagaimana tegap langkah kakimu berjalan perlahan-lahan, meninggalkanku dari semua harapan.
namun kini, aku hilang.
aku masih ingat, tegap bahumu, lembut suaramu dan sederet senyumanmu yang menenangkanku. dulu.
aku masih hapal betul bentuk lenganmu, caramu berjalan dan meyakinkanku bahwa kebahagiaan ada bersama kita dan di masa depan.
pantulan sinar mentari yang cerah, senyumanku yang melebur bersamanya. kini kaku, biru.
dan sekarang aku kembali datang, untuk membawa segala kesedihan itu pulang.
hari ini, di tempat yang sama. aku kembali mengingat, dulu. aku pernah jatuh cinta.
sesekali bayangkanlah perasaanku. dan nikmatilah setiap kesedihan, yang mengalir disana.
remang lampu ditepian jalan, sayap kunang-kunang yang patah, dan segala kesepian ini. menghadirkanmu.
detik jarum jam memutar waktu, detak jantungku memutar rindu.
langit-langit kamar, memantulkan kesepian. langit-langit hati, memantulkan kerinduan.
dibalik senyum, kau tak pernah bisa membaca. ada sedikit kepahitan dan kesedihan didalamnya.
dan aku tengah menanti waktu diantara dua hal; kedatanganmu atau kepergianmu.
cinta, kelak bukanlah lagi alasan untuk saling lagi menguatkan.
tak mudah bagiku untuk bertahan dalam keadaan yang tak memungkinkan.
nanti, kelak ketika kau ingin pulang. ingatlah, aku bukan lagi tempat untuk kau kembali datang.
nanti, ketika kebahagiaanmu sudah dapat kau raih sendiri. ingatlah aku sesekali, sebagai kesedihan. yang pernah kau telantarkan.
ku lepas kau sebebasnya. namun ingat, kelak waktu kan menjadikanku bukan lagi tempat untuk kau pulang.
malam ketiga. sebuah doa masih dengan satu nama. mungkin malam keempat, bukan namamu lagi yang ku eja.
kau meminta waktuku untuk menunggumu. mungkin segala rasa akan habis, saat kesabaran mulai menipis.
barangkali nanti, akan ada masa dimana aku memilih untuk berhenti. bukan tak mau mempertahankan, namun kebaikan ada setelah perpisahan.
barangkali takdir Tuhan tengah berbicara.
perjalanan belum usai, namun tak ada lagi yang dapat aku ceritakan saat air mata tak lagi berderai.
aku menghela pada sepi. apakah mencintai harus sesakit ini?
saat senyummu tak lagi menjadi pemadam segala pedihku. dan tatap matamu tak lagi menguatkan aku.
aku merasa kehilangan sesuatu yang masih ku genggam.
doa-doa yang kini kugenggam, entah untuk siapa akan aku rapalkan.
aku terdiam mematung. lenganmu tergantung. tak lagi memapahku.
sehebat apakah Cinta, hingga luka terus tergores tanpa pernah kutemukan penawarnya.
aku terdiam, penuh tanya dalam bungkam.
segalanya akan menyusut bersama waktu. jarum jam bergerak begitu lambat, tak pernah mengerti perasaanku.
hari ini, akan menjadi kemarin di hari esok. dan esok, akan menjadi hari kemarin di lusa.
pada akhirnya, semua akan menjadi kenangan.