Kamis, 31 Oktober 2013

Luka Panggilanku

Panggil aku Luka
Karena telah berdarahlah aku.
Bercermin pada wajah bumi
Yang menjadi ungu karena dosa.
Panggil aku Luka
Karena putih tulangku terlihat
Menjadi tontonan anjing- anjing ngiler
Yang pernah aku pelihara.
Luka namaku
Karena sang malaikat penjaga Buku Kehidupan
Telah mengayunkan pedangnya padaku
Suatu hari, suatu saat
Aku tak punya nama
aku adalah pengikut sang binatang
yang berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh
yang menyapu sepertiga dari bintang- bintang di langit
Ke empat penjuru angin aku melesat
Bersama kuda dan pasukanku
Menebar segala dusta dan hujat
Berkawan dengan wabah kolera dan kusta
Hingga suatu hari, suatu saat
Berdiri merintangi jalanku
Seorang malaikat berdada emas bertangan besi
Betapa heran aku bahwa wajahnya
Adalah wajahku.
“Salam hai Luka!” katanya
“Ikutlah denganku kembali ke rahim ibumu
yang aman dan tenteram,
di mana bisa kau baringkan jiwa gelisahmu.”
“Siapa kau? Mengapa kau panggil aku Luka?
Beranjaklah dari jalanku,
karena kudaku sudah sehari puasa darah.
Jangan sampai dia minum dari darahmu!”
Namun ia tak beranjak
Dan mengulurkan tangannya kepadaku
Aku jawab ia dengan pedangku
Pedang yang berkarat karena kusta dan nanah
Ia tak menghindar
Namun patah pedangku mengenai lehernya.
Dan dengan sekali sabet,
Ia merubuhkan aku dengan pedangnya.
Lukaku menganga
Darah yang mengalir berwarna ungu kehitaman
Seiring dengan itu ia menuangkan
Secawan anggur ke lukaku.
Jiwa yang terbelah, sebagian hitam sebagian putih,
Dan warna putihnyapun makin cemerlang
Menghalau hitam yang telah menetes dari lukaku.
Jiwaku berpisah raga,
terbang menyatu awan
Ke rahim ibukulah kini aku kembali,
Aku telah luka namun jiwaku hidup kekal
Maka panggillah aku Luka.
“Kau bukan Luka, anakku.” Kata sebuah suara
Suara ibuku kah itu?
“Kini namamu telah tercantum
Di dalam buku kehidupan,
Sehingga namamu adalah Pengantin.”
Jadi, panggil aku Pengantin
Mulai saat ini namaku Pengantin.
Seorang malaikat berdada emas bertangan besi
Memberiku pelapis dada emas dan sarung tangan besi
Serta pedang yang panas bagai api
Tapi juga sejuk bagai air.
“Ikutlah aku dan pasukanku,
untuk membuat para pengikut sang binatang
berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh
menjadi pengantin seperti dirimu.”

aku bukan sesuatu

Aku mencabik senar gitar bukan karena riang
Namun karena ada sepi yang mesti ditutupi
Aku bernyanyi lantang bukan karena baru gajian
Namun karena ada tanya yang tak terjawab.
Jika karena kebenaran aku melukai orang,
Dan karena sayang aku menindas,
Ke manakah sepatuku sayang mesti melangkah?
Perlukah kusisir rambutku
Agar otak di bawahnya turut rapi?
Jika karena hidup aku mati
dan karena membela aku menyakiti,
Di manakah pantatku sayang harus kududukkan?
Aku menabuh gendang bukan karena riang
Namun karena ada jiwa yang menggelinjang
Aku menari berpeluh-keringat bukan karena good trip
Tapi karena ada cuka mengalir dalam darah.
Aku mencabik dan aku menabuh,
Menempa duka agar jadi suka
Aku berpeluh aku menari
Mengibas ragu yang menancap
Menyilakan kepastian meresap.

aku pendosa

Kalau ada orang bertanya siapa aku
Akan kujawab “Aku pendosa”
Kalau mereka bertanya mengapa
Akan kujawab “Karena aku lemah”
Karena manusia telah jauh melangkah
Dari terangnya hari ke dalam pelukan gelap malam
Dari kesadaran bagai bintang
Menuju lubang hitam menghisap pekat
Kalau ada orang bertanya siapa aku
Akan kujawab “Aku pendosa”
Aku adalah seorang pendosa
Yang berhutang dan tak membayar
Yang berkhianat dan menikam
Yang memangsa dan mencekal
Yang menyesal dan berkabung
Pun begitu aku tahu
Jika malam pekat memanggilku lagi
Aku akan kembali ke pelukannya
Karena lari dari jerat yang telah mendaging amat sulit
Kalau ada malaikat menudingku,
Ia akan berkata “Kamu pendosa”
Sambil berlutut aku menyahut
“Ya, akulah itu”
Lalu ia mencambukku, menyesahku
Tak ada orang membelaku
Karena aku menyembunyikan diriku
Ketika semua usai
Aku terbaring,
Sesayup kudengar nyanyian ibuku
Lagunya menusuk kalbu,
Membasuh jiwaku.
Menjadi titian menuju terang
Ibu, anakmu pendosa
Peluklah ia erat
Bukan karena terluka
Namun agar ia tak lari kembali ke malam
Kalau ada orang bertanya siapa aku,
Akan kujawab, “Aku anak ibuku”
“Ibuku adalah Terang,
dan Terang akan menjauhkanku dari malam

Sabtu, 26 Oktober 2013

Puisi Telah Pergi

Sebuah puisi yang diketik di saat admin
sedang duduk sendirian. Yah, ini mungkin
cuma sebuah puisi yang nggak ada nilainya,
tapi ini gambaran hati, curhat penuh harap.
Ah,langsung baca ajalah . . . . .
Aku juga bisa merasa lelah
Aku sudah sangat ingin untuk menyerah
Kerapuhanku
Kegelisahan ku Dan semua harapanku
Hanyalah bayangan semu
Kenapa setiap yang di inginkan selalu
terabaikan
Kenapa setiap yang di harapkan selalu
terlupakan
Aku ingin berteriak Batin ini menjerit
Menuntut keadilan Yang seperti tak pernah
di dapatkan
Kebisuan yang di salah artikan Keheningan
yang sungguh menakutkan Tuhan,
Ku mohon padamu Tolong hentikan derita
ku . . .

Setengah Hati

Tertegun ku memandangmu
Saat kau tinggalkanku menangis
Bodohnya ku mengharapmu
Jelas sudah tak kau pedulikan cintaku

mestinya telah kusadari
betapa perih cinta tanpa balasmu
harusnya tak ku paksakan
bila akhirnya kan melukaiku

mungkin ku tak akan bisa
jadikan dirimu
kekasih yang seutuhnya mencinta
namun kurelakan diri
jika hanya setengah hati
kau sejukkan jiwa ini
Ku hanya terus berharap
Satu hari kau mampu sadari
Tiada yang pernah mengerti
Sepertiku setulus hati mencintamu

Dibalik Mimpi

dibalik mimpi, ada sesuatu yang tak mungkin orang tau. selain orang yang memimpikannya
dibalik mimpi, ada celoteh merekaa yang hanya bisa bicara, mereka tak beri jawaban.
dibalik mimpi, ada seseorang yang selalu berdoa. bukan untuk mendoakan apa yang dimimpikannya, melainkan berdoa agara mimpi itu tak hilang
dibalik mimpi, tersirat harapan. harapan yang kelak akan diwujudkan
dibalik mimpi, ada tangan yang menengadah padaNya. memohon untuk selalu diberi nafas untuk melanjutkannya.
dibalik mimpi, ada seseorang yang memperjuangkannya, meski yang diperjuangkannya tak memimpikannya
dibalik mimpi, ada sesuatu yang membuat sang pemimpi terus menerus untuk bermimpi
dan dibalik mimpi, ada mimpi yang tercipta tanta bermimpi

lagu rindu (memorie) by.JE

kelip bintang disana
dinginnya malam ini
hujan rintik membawa ku teringat wajahmu

termenung ku sendiri
teringatkan dirimu
kuingin malam ini memeluk tubuhmu

reff
namun ku tak bisa
kau jauh disana
hanya lewat mimpi kubisa memelukmu

andaikan kau tau
rindu dihatiku
mungkinkah dirimu kan jadi pendampingku

satu harap kau jaga
kuingin mencurahkan
satu harap kau setia
kepada diriku